2/9/25
Aku tidak pernah menerima perlakuan seburuk ini, sampai akhirnya aku bertemu kamu.
An (Almost) Ordinary Life
Memang tidak mudah hidup denganku.
Sebuah tulisan yang tercipta karena refleksi asal-asalan di malam minggu.
Salah satu penilaian tentang saya yang paling membekas itu datang dari Ibu saya: Saya merupakan pribadi yang sulit untuk dihadapi. Pendapat ini sangat membekas dan tidak pernah saya elak, karena memang Dea versi keluarga adalah versi terburuk yang pernah ada. Semua itu bermula dari luka yang terlalu mendalam. Tetapi saya tidak mau membahas luka itu.
Saya menuliskan ini karena ternyata tidak hanya Ibu saya yang berpendapat demikian.
Saya mendengar pernyataan ini dari oranglain tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali dari orang yang sama, khususnya malam ini. Jadi, saya refleksikan sulitnya saya sebagai manusia di blog ini.
Saya sadar betul bahwa saya tidak bisa, saya tidak mau, membuat oranglain harus memahami saya. Keras dan keburukan diri yang saya punya tidak wajib dipahami oranglain, tidak wajib diterima. Jadi, sama seperti hubungan-hubungan lainnya, meninggalkan dan ditinggalkan karena ketidakcocokan itu adalah hal yang biasa di dalam hubungan. Tidak ada orang yang sangat buruk bagi oranglain, adanya orang yang bertemu dengan orang yang salah. Akan selalu ada orang-orang yang sesuai dengan seberapa baik ataupun buruknya orang itu.
Alasan dari setiap pertengkaran dan perselisihan dari sebuah hubungan itu memang dilandaskan dari satu persoalan mutlak: gak cocok aja.
Karena orang se najis apapun di dunia ini selalu menemukan cintanya, menemukan rumahnya. Semua orang berhak dan wajib menemukan cinta yang sesuai dengan dirinya. Jadi, emang gak perlu dipaksa, beberapa hal tidak perlu diubah. Yang perlu diubah adalah bentuk hubungannya.
Kalau dia memang tidak cocok menjadi pasangan, maka ubahlah bentuk hubungannya menjadi seorang sahabat.
Kalau dia ternyata masih tidak cocok menjadi seorang sahabat, maka ubahlah hubungan itu menjadi seorang teman.
Jika menjadi seorang teman pun tidak sesuai, maka ubahlah hubungan itu menjadi sekedar kenalan.
Bahkan jika membayangkan dia sebagai kenalan saja membebani, maka hapus segala bentuk hubungan dengannya.
Karena hidup ini membebaskan, maka pilih dan hiduplah untuk dikelilingi orang-orang yang memang membuat kita merasa ringan dan bahagia. Tinggalkan orang-orang yang membuat kita merasa terbebani, merasa sulit, merasa bingung.
Seperti saya, pergi tinggalkan saya jika buruknya saya terlalu memuakkan, jika kekurangan saya begitu menyesakkan, apalagi menimbulkan rasa lelah.
Karena seperti saya yang berhak bersama orang yang sesuai dengan saya, siapapun berhak memutuskan hubungan dengan saya, mengubahnya menjadi sekedar kenal saja, atau bahkan seolah tidak pernah mengenal saya sama sekali. Tidak apa-apa selama keberadaan saya di dunia ini tidak lagi menimbulkan rasa muak yang menyesakkan.
Entah masa kecil seperti apa yang gw lalui sehingga membuat gw memiliki batas sabar seluas samudera. Entah rasa sakit sebesar apa yang pernah gw rasakan sampai sesulit itu untuk gw menghentikan sebuah hubungan pertemanan.
Apapun itu alasan di baliknya, gw tumbuh besar menjadi manusia yang punya seribu maaf. Butuh jutaan rasa sakit yang menusuk di hati gw, sampai gw dengan gagah berani memutus pertemanan itu.
Dan sekarang, untuk kedua kalinya dalam hidup, sepertinya gw akan memutus lagi jembatan pertemanan yang pernah gw miliki.
-
Mungkin dibandingkan marah, rasa sakit yang lebih tidak bisa termaafkan adalah rasa kecewa. Tentu bukan hanya satu atau dua kali saja rasa kecewa yang gw rasakan untuk gw berhenti berharap sebuah pertemanan kembali utuh, tetapi butuh satu momen kecil yang menusuk ke relung hati terdalam. Hanya satu momen kecil yang membuat gw berpikir "oh, lo udah keterlaluan sih"
Momen itu sudah terjadi.
Rasa sakit dan kecewa itu masih perih seperti luka yang belum diobati.
Tanpa diminta rasa itu sesekali mengintip keluar, membuat hari yang tadinya tenang menjadi bergejolak tak menentu.
Rasa sakit itu masih ada, masih terpatri jelas sampai detik ini, saat tulisan ini dibuat.
Pada hari itu, hari di mana semua rasa sakit dan kesadaran hadir ke hati dan pikiran. Hari di mana semua pertanyaan akhirnya terjawab tanpa perlu mendengarnya langsung keluar dari mulutnya.
Hari di mana gw memutuskan bahwa ini adalah akhir dari cerita kita sebagai seorang teman.
Rasa cinta ini akan selalu ada. Rasa rindu akan semua momen yang sudah lewat juga akan selalu ada. Namun sejak hari itu, gw memutuskan untuk membiarkan rasa-rasa itu menjadi sebuah kenangan yang tidak perlu lagi dikenang, apalagi diulang.
Makasih deh pokoknya! ^^
Hiruk pikuk kota Jakarta tidak pernah menghentikan langkah para penakhluknya. Membelah keramaian jalan Sudirman, berperang menyalip pengendara yang seenaknya, berdempetan bersama penumpang kereta lain tanpa perlu berpegangan. Semua demi Jakarta, si penyambung hidup bagi begitu banyak manusia. Bagiku Jakarta tidak hanya tentang tempat untuk mencari uang, hubunganku dengan Jakarta lebih romantis dari yang aku kira.
Aku duduk manis di belakang, melihat perjuangan temanku yang lihai menyalip deretan mobil tanpa ujung. Sudah 15 menit tubuh kami berdinamika bersama mencari jalan pintas khas Jakarta yang sempit. Telepon genggam masih menyala, terbuka laman pemutar musik, namun belum ada satupun lagu yang berhasil dipuar. "Lagu apa ya yang paling tepat sama perjalanan ini" pikirku. Semakin dicari, semakin tidak ketemu. Aku menyerah dan memasukkan benda berharga itu ke dalam tas sebelum ada yang merampasnya.
Memang ajaib teknologi, mampu membuat kita lupa akan kehidupan yang sedang berjalan di depan mata. Menjauh darinya sesaat membuatku lebih hadir.
Aku menoleh ke sekeliling tempat kami terjebak kemacetan, ada perasaan aneh yang menyergap tiba-tiba. Kilas balik memori muncul silih berganti tanpa bisa dihindari. Perjalanan, tawa di dalam mobil, lantunan lagu-lagu yang sempurna, McDonalds tengah malam, dan kehidupan ringan tanpa beban. Mataku mulai terasa hangat, tanpa disadari aku menutupinya seolah mencegah agar mereka tidak merespon berlebihan. Aku hanya melihat deretan mobil, halte bus, nama jalan yang dulunya tidak pernah aku hiraukan, yang aku pikir tidak memberikan makna apa-apa.
Momen itu menyadarkanku bahwa aku sudah terlalu banyak menorehkan cerita indah dan pahit di Jakarta. Jalan besar hingga kecil di pelosok Jakarta rasanya pernah aku lalui. Bersama satu atau dua orang yang berbeda, bersama rasa sedih, bahagia maupun luka, bahkan hanya berdua bersama imajinasi liarku di kepala.
Perasaan aneh itu berganti menjadi perasaan hangat yang menyenangkan. Aku menikmati kehadiran memori indah dan sakit yang muncul bergantian, hingga akhirnya ada satu kenangan kuat yang seolah mendesak diberi perhatian.
Sebelas tahun lalu, di dalam sebuah bus antar kota, aku dan kedua orangtuaku duduk berdampingan sambil memperhatikan jalanan yang terlihat sangat panas. Hari itu rasanya berbeda, Bapak mengajak kami mencoba transportasi bus bersama-sama. Beliau bilang "kalau kamu jadi kuliah di kampus itu, kamu harus coba kira-kira gimana cara kamu ke kampus kalo naik bus, jadi kamu punya bayak opsi" katanya dengan penuh semangat. Saat itu aku dan kedua orangtuaku belum memutuskan aku akan berkuliah di mana, akupun perlu tahu seberapa jauh jarak tempuhku dari rumah ke kampus. Hari itu kami mengecek dua kampus. Satu kampus idamanku dan satu kampus idaman Bapak, Ibu setia mendampingi pencarian kami.
Di bus kami sedikit banyak bercengkrama dan melemparkan candaan, berdiskusi terkait kampus yang mungkin akan aku pilih, bahkan terselip sedikit argumen kencang.
Hari itu adalah pertama kalinya aku melihat Jakarta dari sisi yang berbeda.
Tinggal di kota penyanggah Jakarta membuatku tidak terlalu sering menghampirinya. Yang selalu aku ingat Jakarta adalah tempat Bapak bekerja, tempat Ibu berbelanja, dan tempat keluarga besar berkumpul bersama. Namun untuk pertama kalinya aku akan memasukkan Jakarta ke dalam garis hidupku yang lebih jelas dan personal, Jakarta akan menjadi topik utama dalam keseharianku. Terlalu sering mendengar betapa kejamnya Jakarta, namun lucunya hampir tidak ada rasa takut dengan kenyataan bahwa sesaat lagi aku akan berduel dengan Jakarta. Mungkin karena perjalananku untuk menghadapi Jakarta dimulai dengan perjalanan kami hari itu. Perkenalanku bersama Jakarta rasanya jadi sangat menenangkan karena ada mereka yang membantu langkah awalku. Ada mereka yang memberikan keyakinan sehingga membuatku percaya bahwa di Jakarta akan dimulai kisah perjalanan mengagumkan yang tidak akan pernah aku lupakan.
Kenangan itu singgah sesaat, kemudian tergantikan dengan kenangan lainnya.
Hari di mana aku pergi ke Jakarta untuk masa pra bimbingan mahasiswa baru. Langit masih gelap, jalanan lowong, aku duduk melamun setengah mengantuk di dalam Taxi yang dingin dan nyaman. Di depan ada Bapak yang menemaniku, mengantarkanku mencapai gerbang kehidupan baru, kehidupan mahasiswa. Ada rasa semangat dan cemas yang bercampur aduk.
Taxi berhenti di gerbang kampus, kami turun dan saling bertatapan. Beliau memberikan kata-kata semangat dan nasihat agar aku pintar-pintar menjaga diri. Momen itu terputus dengan kenangan aku yang meletakkan tangan Bapak di dahiku.
Mataku tidak mampu lagi menahan bendung tangis, pipiku basah dibanjiri kenangan manis itu.
Belum puas mataku mengekspresikan sedihnya, kenangan lainnya muncul perlahan.
Kenangan saat Bapak dan Ibu datang ke kampus untuk menghadiri pertemuan orangtua. Aku melihat mereka dari kejauhan, berjalan berdampingan, mengenakan batik rapih, dan menghampiriku yang sedang duduk di lantai mengerjakan projek kuliah bersama teman-teman. Entah mengapa aku bisa melihat ada rasa bangga yang tertanam di hati dan di benak mereka. Mungkin karena melihatku yang betul-betul sudah menjadi mahasiswa, mungkin karena rasa bangga mampu menguliahkanku di tempat terbaik yang aku inginkan, atau entah apalah itu. Yang jelas aku melihat mereka bahagia bisa hadir untukku.
Kami menutup hari itu dengan jalan-jalan di mall dekat kampus, memesan nasi pecel yang biasanya aku pesan, membicarakan hal-hal serius sampai aneh.
Kenangan itu buyar seketika karena suara klakson panjang yang memekakan telinga. Aku termenung, air mataku semakin deras berjatuhan. Aku merindukan Bapak yang selalu hadir di setiap transisi kehidupanku, sosok yang kini hanya bisa aku kenang dalam pikiran dan hatiku. Sosok yang raganya sudah tidak bisa aku rengkuh, tangannya sudah tidak bisa aku raih, pelukannya tidak bisa aku rasakan, harumnya sudah tidak bisa lagi aku cium, dan suaranya yang perlahan mulai memudar.
Otakku beputar mencoba untuk memberi penghiburan, muncul kenangan-kenangan indah bersama pacar ataupun sahabat. Senyum tipis mulai menghiasi wajahku.
Saat itu aku dan ketiga teman kelompok sekaligus sahabat hidup berjalan menyusuri halte bus Transjakarta. Aku masih ingat wajah was was salah seorang teman yang mengaku belum pernah sekalipun mencicipi Transjakarta, kami berlomba untuk melindungi teman itu, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, berharap ada rasa nyaman yang timbul di dalam hatinya.
Sampai di tempat tujuan kami berempat turun dari Transjakarta dengan riang gembira, menuju satu hotel yang telah kami pesan beberapa hari sebelumnya. Sebelum check in, kami mampir untuk belanja sedikit camilan, berharap kehadirannya dapat sedikit menghibur isi kepala yang kalut. Setelah membuka pintu kamar, kami setengah berlari berhamburan ke kasur dan mencari tempat ternyaman. Terdengar suara laptop yang dinyalakan secara bersamaan. "Lo sempurnain latar belakang ya, gw mau ke Bab 2 dulu" tutur salah seorang teman.
Hotel identik dengan istirahat dan berlibur kami mencampuradukkan kebahagiaan itu dengan beban tugas besar yang harus kami selesaikan sebelum esok hari datang. Empat mahasiswa bau kencur berpikir menginap di hotel adalah keputusan terbaik agar paper ini selesai dengan sempurna. Ketegangan itu terkadang hadir bergantian dengan gelak tawa dan rasa frustrasi. Malam hari salah satu Ibu di antara kami datang membawakan banyak makanan, kami menikmatinya dengan senang hati.
Aku tertawa mengingat kenangan itu. Seru sekali ya hidup disokong orangtua. Kenangan itu memudar saat mengingat pagi harinya kami terseok-seok berlari untuk mencapai kampus.
Kenangan lain hadir lagi tanpa permisi.
Hari-hari di mana aku dan sahabat membelah Jakarta untuk mencari kesenangan. Pagi, siang, sore, tengah malam. Teringat jelas tawa renyah di antara kami, musik kencang yang kami nyanyikan bersama-sama. Halim, Kemang, Cipete, Bundaran HI, Gading, Cibubur, dan pecel lele dekat rumah salah seorang teman. Malam hari biasa dengan night ride untuk sedikit melupakan tugas kuliah, malam luar biasa dengan hiruk pikuk musik dan tawa kencang, malam hari dengan duduk makan bersama di meja makan keluarga salah seorang sahabat.
Satu kesamaan dari semua kenangan di atas adalah ringan. Jakarta saat itu bak kantung plastik berisi satu butir telur. Ada beban, tetapi sungguh tidak berarti apa-apa. Jakarta saat itu dihadapi oleh aku dan sekelompok teman yang hidupnya hanya tentang menciptakan momen-momen membahagiakan. Satu-satunya tantangan kami hanya kuliah. Jakarta ringan karena bebannya masih dipikul oleh orangtuaku. Jakarta ringan karena saat itu aku belum memaknainya sebagai tempat untuk beradu nasib.
Jakarta terasa lembut karena ada Bapak dan Ibu yang memperkenalkannya dengan bahasa dan cara yang indah. Ada sahabat-sahabat yang setiap detiknya selalu hadir, bersama-sama memuja dan memaki Jakarta.
Jakarta bagiku adalah tentang orang-orang terkasih yang membuat hubunganku dengan kota ini menjadi begitu romantis.
Itu dulu. Kisah "romantis"ku bersama Jakarta kini sudah berbeda. Ada hal yang sudah berubah, dan mungkin aku juga. Warnanya tidak lagi hanya mejikuhibiniu. Kini, hubungan kami bukan lagi tentang romantisme, tetapi juga tentang benci dan cinta, khas sahabat lama.
Jakarta.
Tanpa Rencana - Dee Lestari
Sebagai pencinta Dee Lestari semua karya yang dikeluarkan rasanya kena di hati. Sekumpulan chapter di buku ini meninggalkan begitu banyak rasa yang berbeda-beda.
Asam Garam | The Supernova Lounge | Kita yang Terurai | Surat Cinta di Botol Kaca
Kita yang Terurai
Cara Dee menggambarkan sudut pandang kedua tokoh sangat brilliant! Perasaan berat kedua tokoh tersampaikan dengan sangat baik. Detail kecil yang meremukkan hati pembaca tersampaikan dengan rapih, pas, tidak berlebihan. Sederhana tetapi berdampak besar terhadap beban emosi yang ingin disampaikan.
Dek kapal, bulan, bintang, gelap, ramai yang hening, riak air, langit, cinta, perpisahan.
Surat Cinta di Botol Kaca
Satu yang menarik dari cerita ini: Kisah dua manusia paruh baya. Sudut pandang baru yang jarang disajikan penulis. Baca bagian ini terbayang seberapa asik persahabatan mereka, seberapa hangat pertengkaran mereka, seberapa rindu saat jarak berdiri di tengah-tengah keduannya.
Keluarga, rumah, hangat.
Setelah menjalani 6 tahun super indah bersama pasangan yang rasanya sempurna, dihantam kenyataan karena kesempurnaan itu semu, dan ujungnya kita harus berpisah, akhirnya gw memberanikan diri sok banget nyoba dating apps. Gw tu selalu kayak... ah dating apps bener-bener bukan buat gw sih, gak suka konsep ketemu stranger. Gw harus temenan dulu minimal setahun lah buat bisa deket lebih dari itu. Mampus ketula.
Main cuma buat having fun aja, tadinya cuma mau cari temen (entah ya dulu denial apa gimana). Download, kadang buka, kadang swipe, kadang chattingan, tukeran no. WA, terus lama gak buka. Kayak lebih ke arah liat liat aja. Ada momen di mana gw buka dating apps pas lagi tugas ke Kalimantan, terus diajak ketemuan, tapi gak dulu aku takut HEHEHE. Sampai akhirnya datanglah seseorang spesial di bulan Agustus.
18 Agustus 2024 - 1.14 PM
Putus dari hubungan 6 tahun, kuat banget bisa menjalani hari, tapi ada waktu-waktu kalah sama diri sendiri. Nangis, bacain suratnya, liat fotonya, hancur deh hati kayak baru diputusin semenit lalu rasanya.
Waktu itu gw lagi balik ke rumah orangtua, gak sengaja buka surat-surat dari dia, nangisin semuanya karena di rumah itu juga banyak kenangan gw sama mantan gw ini. Setelah capek nangis, tanggal 17 Agustus saat orang-orang bersorak bahagia dan rebutan hadiah, gw buka dating apps karena iseng aja. Dari pengalaman gw yang sangat minim main dating apps, gw tuh jarang menemukan sosok yang menarik. Menarik buat gw tuh bener-bener ya MENARIK gitu dan mostly bukan soal fisik. Berharap dapetin orang yang nyambung diajak ngobrol.
Lagi swipe asal, muncul nih satu profil super menarik. Secara fisik aduh ya ampun tolong deh gw tertarik banget, karena dia tuh mirip sama senior yang dulu gw suka di kampus. T e t a p i, fisik ini sejujurnya biasa aja memengaruhi keputusan gw untuk swipe right, tau apa yang lebih menarik? Dia tulis MBTI nya INFJ. *menjerit.
Maaf nih buat temen-temen pembaca setia aku kalau gak suka/gak percaya MBTI, bisa skip aja bagian ini. Buat gw yah profiling apapun itu tuh menarik aja untuk ditelusuri, bener gak nya ya terserah deh, tapi intinya selalu jadi obrolan seru menarik. Di hidup ini gw tu banyak banget dikelilingi orang INFP dan INFJ. Kayak sama mereka tuh klik gila deh. Kalo mau dipersempit lagi gw emang klik mampus sama orang-orang NF dan kayak bingung sama orang-orang S, kecuali ISFJ. Ada 3 orang ISFJ di hidup gw yang gw cocok, tapi S lain tuh kayak.... yuk bisa yuk kita lebih ngobrol deep lagi, gitu. Maaf temen-temen S, ini aku bicara dari pengalaman yah bukan secara keilmuan.
Jadi, jujur banget gw udah super bias pas baca dia INFJ. Setelah gw swipe right, gw langsung bisa chat, tandanya dia udah swipe gw duluan. Gw tuh ya males banget chat, kadang cuma formalitas kayak HAI HALO aja berharap dapet temen ngobrol. Sorry banget tapi yang ini aku semangat chatnya.
Gw kayak bilang
Hai
It's great to find someone who.....
Maaf banget tapi gw capture nya profil dia dan chat gw cuma keliatan dikit, intinya gw bilang gw seneng ketemu orang yang taroh MBTI dia dan gw seneng lo INFJ *kayaknya gw bilang gitu.
20 Agustus 2024
Gw tertarik sama dia tapi gak mengharapkan ada balasan, gak mengharapkan akan ngobrol, dan udah pasti gak berharap akan nyambung. Tanggal 18 itu gw chat dia, gw balik ke Jakarta tanggal 19, harusnya ya dia tu udah bales gw, tapi jujur seinget gw pertama kali gw chattingan itu saat gw lagi di kantor, harusnya sih sekitar tanggal 20 (udah gw cek bener tanggal 20 HEHE). Dari POV dia, masa di mana kita match tuh dia lagi jarang buka bumble dan dia gak aktifin notif, gw juga, jadi thanks banget universe kita waktu itu gak kehilangan waktu buat chat.
Kita chat agak intens di bumble, balesnya cepet banget dia, gw sambil kerja dan meeting di ruangan, terus baru chat dikit dia langsung minta WA. Tanggal 20 Agustus 2024 jam 12.13 PM adalah WA pertama dari dia. Langsung deh obrolan mengalirpun terjadi, sangat mengalir seperti air sampe gw gak merasa bingung nyari topik, karena gw gak pretending sama sekali. The beauty of dating apps menurut gw adalah ketika lo gak desperado nyari, terus semua orang lo anggep ah nothing to loose. Demi apapun obrolannya nyambung banget lagi. Nangis.
Sejak hari itu kita gak berhenti chatting kecuali pas lagi tidur, mandi, dan makan. Sisanya kayak ada aja yang dibahas.
Rasanya kayak ketemu orang yang udah lama gw kenal, padahal baru.
Udah ah gitu dulu, lanjutannya nanti lagi~
Manusia datang ke hidup kita punya satu tugas yang pasti: pergi
Karena semua yang kau cinta akan pergi
Maka tunjukkan cintamu sebelum terlambat
Kita selalu pikir kita punya waktu
Lalu kita pilih untuk nanti dulu
Bagaimana jika nanti tak pernah ada?
Sepenggal lagu dari Nosstress. Sebuah lagu yang pertama kali didengarkan mampu membuat hati terasa hangat sekaligus cemas. Apa gw udah cukup menghargai hubungan gw dengan orang-orang di sekitar gw ya? Apa gw udah bilang kalo gw sayang mereka? Apa mereka tahu kalo gw bahagia punya mereka?
Manusia datang dan pergi. Pergi karena jalannya udah beda, pergi karena kesibukkan menciptakan jarak di antara kita, ataupun pergi dalam arti harafiah. Semua kepergian sama sakitnya, semua kepergian sama-sama menciptakan luka yang akan selalu ada.
Terus bagaimana caranya menghadapi perpisahan? Bagaimana caranya ikhlas melihat orang lain perlahan pergi menjauh?
2024 adalah momen "pembersihan". Orang-orang yang tadinya selalu hadir, tiba-tiba pergi dengan berbagai alasan. Hidup rasanya lagi dicuci sama Tuhan, orang-orang lama dibuat pergi, digantikan dengan orang-orang baru. Mereka yang baru hadir di kehidupan juga sama bermaknanya, tetapi tidak bisa menggantikan tempat-tempat yang dulu diduduki oleh orang-orang lama.
Pengalaman pergi dan ditinggalkan membuat gw mulai bisa menjawab pertanyaan bagaimana caranya menghadapi perpisahan.
Caranya adalah menyadari dan menerima bahwa manusia datang ke hidup kita punya satu tugas yang pasti: pergi. Semua yang datang akan selalu pergi, semua yang datang tidak akan kekal abadi. Semua manusia yang siap kita terima datang ke kehidupan kita membawa satu paket lengkap yang tidak bisa dipisahkan: membawa kebahagiaan dan luka.
Karena semua yang kau cinta akan pergi. Maka tunjukkan cintamu sebelum terlambat. Kepergian yang sudah pasti itu tidak boleh menghapuskan esensi dari kehadiran mereka di hidup kita. Nikmati dan hargai orang-orang yang sekarang ada, lepaskan dan relakan saat tugasnya sudah selesai, terbuka untuk orang-orang baru yang datang ke kehidupan kita, niscaya hidup akan baik-baik saja.
Untuk orang-orang yang dulu ada, untuk orang-orang yang sampai saat ini masih selalu ada, untuk orang-orang yang baru saja masuk ke kehidupanku; hai, terima kasih sudah mau menjadi temanku, mau bertumbuh bersamaku, mau memberikan berjuta maaf kepadaku, sampai akhirnya kita masih bersama-sama.
Sungguh seberapapun banyak luka yang akan kita ciptakan, begitu banyaknya alasan kita untuk merasa terluka karena satu sama lain, tidak akan pernah menghapuskan artimu di hidupku.
Dea Astari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates