So Proud of You
Hai. Lama tidak menulis, aku mau berbagi rasa bersyukur ku di sini.
An (Almost) Ordinary Life
Hai. Lama tidak menulis, aku mau berbagi rasa bersyukur ku di sini.
Dari semua cara yang bisa gw lakuin untuk mendapatkan sebuah informasi, salah satu cara yang paling gw suka adalah mendengar langsung dari ahlinya. Gw paling suka ngobrol sama orang yang bisa memberikan gw informasi baru tentang apapun, apalagi kalau kita punya bidang yang berbeda. Rasanya seperti menelusuri tempat baru bersama tour guide yang sudah khatam sama setiap destinasi yang kita kunjungi.
Hai, apa kabar?
PPKM, aman gak?
Untuk kedua kalinya PPKM diperpanjang, untuk kesekian kalinya kita cuma bisa ribut di sosmed aja. Buat sebagian orang PPKM gak memengaruhi apa-apa. Bisa WFH atau punya tabungan buat bertahan di masa pandemi adalah kemewahan luar biasa. Iya, semua orang kena dampak. Iya, perusahaan besar kena dampak. Tapi, kita semua tahu bahwa ada yang lebih kena dampak lagi. Mereka yang dipecat atau bergantung pada penghasilan harian. Mereka yang tanpa pandemi aja hidupnya udah susah. Jadi tolong lah yang bilang "semua ngerasain, perusahaan gede juga kena dampak" duh kadang kalimatnya terdengar terlalu jahat. Lo tetep gak selevel sama yang nangis gak bisa makan siang, karena gak punya uang sama sekali.
Solusinya apa? Jujur gw sendiri juga gak tau, hanya bisa mengharapkan pemerintah. Kalau memang PPKM mau diperpanjang, ya semua butuh dibantu. Memang banyak sekali orang baik yang mau buka penggalangan dana dan bantuan lainnya, duh Tuhan menyayangi kalian banget deh. Buat yang memanfaatkan pandemi dengan kotor, para pembohong, go to the hell. Sumpah lo jahat banget, nyet. Udah gak punya otak, gak punya hati juga. Astaga.
Kalau kita mau pandemi ini cepet selesai, kita harus mematuhi protokol, stay at home jika memungkinkan. Kita juga harus cepet vaksin. Yuk vaksin dong plis banget :( Kalo takut, punya teori konspirasi di kepala, atau apapun yang bikin ragu, PLIS BANYAK BACA :(
Kita semua udah capek kan ya? Kita semua bener-bener kangen situasi normal. Kita semua mau berkegiatan tanpa merasa ketakutan. Kita semua juga pasti berharap bisa segera 'berdampingan' dengan COVID. Kayak dulu flu dianggap mematikan, sekarang flu dianggap penyakit paling enteng. Tapi untuk mencapai itu semua kita sebagai masyarakat juga punya peran penting untuk mewujudkan apa yang sudah pemerintah rancang. Iya, mungkin pemerintah banyak banget cacatnya dalam menangani pandemi, tapi kalo kita ikutin aturan protokol bisa kok. Kalau memang pemerintah gonta ganti kebijakan, tiba-tiba bolehin kita liburan, ya udah inget aja kalo lebih baik stay at home kalo gak penting. Kita punya akal untuk mikir apa aja yang terbaik untuk kita dan orang di sekitar kita.
Gw udah capek harus bersedih hati setiap denger sehari bisa 3 sampe 5 kali masjid mengumumkan berita duka cita. Di instagram penuh ucapan semoga cepat sembuh, teman-teman terdekat ditinggal orang yang mereka sayang karena COVID. Ini udah berlebihan, yuk kita pasti bisa segera lepas dari kondisi ini.
Doa terbaik untuk mu teman-teman ku yang sedang berusaha sembuh, doa terbaik untuk mu teman-teman ku yang sedang mendampingi keluarga karena COVID, doa terbaik untuk mu teman-teman ku yang kehilangan orang terkasih. Gak ada satu kata pun yang bisa membuat semua kondisi ini terlihat jadi lebih baik, aku hanya bisa mendoakan, kita sehat terus.
Buat gw setiap orang bebas melakukan apapun di hidupnya. Selama apa yang orang lain lakukan gak merugikan gw, gak merugikan masyarakat, dan tatanan dunia, ya terserah lo. Salah dan benar kadang-kadang cuma soal perspektif aja. Apalagi dosa, aduh udah deh gak usah kebanyakan nilai perilaku orang itu dosa atau gak, Anda asisten Tuhan? Jalani aja hidup yang menurut lo baik.
Kami duduk canggung berhadap-hadapan di antara dua gelas kopi panas yang mengepul. Aku duduk tegak, sesekali mencuri pandang kepadanya yang sedang menunduk dan sibuk memainkan jermari. Seolah saling bercengkrama lewat suara hati, kami nyaman terdiam menikmati suara helaan nafas dan kipas yang berputar di atas kami. Dia berdeham dan melipat lengan kemeja putihnya, menaruh jemari tangannya di atas meja. Aku bisa melihat ketakutannya untuk memulai pembicaraan. Tetesan-tetesan keringat yang turun di lehernya entah mengapa membuatku semakin iba. Dunia di sekitar kami masih berjalan dan kami lama terdiam hingga pagi hampir menjelang.
Kopi kami utuh tidak tersentuh, sudah dingin, kehadirannya hanya basa-basi. Aku tidak menyerah dan enggan melepas keheningan. Aku asik terdiam dan memperhatikannya yang sibuk merangkai kata di kepala. Aku lipat tanganku karena udara di luar semakin dingin.
Sejujurnya kepalaku ikut berputar, menduga-duga kalimat apa yang akan ia lontarkan. Bagaimana caranya memecah keheningan. Apakah kali ini ia akan berdiri dan pergi lagi tanpa satu katapun seperti terakhir kali?
Kakiku mulai bergetar kecil, aahh lelah juga ya lama-lama. Aku menundukkan kepala hampir sejajar dengan meja agar dia melihat bahwa aku berusaha untuk berbicara dengannya.
"Jangan! Aku bisa"
Mataku terbelalak melihat tubuhnya mulai bangkit dari kursi. Aku diam dan menunggu sinyal tidak nyaman, bersiap untuk berdiri dan menemaninya.
"Aku mau meminta sesendok gula" ia melangkahkan kaki dengan canggung seraya mengangkat gelas kopi yang belum ia sentuh, tangannya terlihat bergetar. Berjalan perlahan, membuka pintu kedai kopi yang berembun karena pagi ini terlalu dingin. Beberapa detik berlalu, pelayan terlihat mengambil gelas di tangannya dan memasukkan sesendok gula. Ia menoleh, kami saling bertatapan dan aku bisa melihat bibirnya sedikit terangkat.
3 Juni 2015. Akhirnya, pasienku berhasil memulai percakapan pertama dengan orang lain tanpa bantuanku dan ibunya.
Dea Astari . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates